Demam Berdarah Masih Mengintai, Tuban Tembus 803 kasus, Dinkes Ingatkan Warga Waspada

  • Whatsapp
Img 20251202 Wa0021

TUBAN, K2RNews.com – Demam Berdarah Dangue (DBD)masih menjadi ancaman serius di Tuban,

pada musim penghujan, genangan air mulai muncul di berbagai sudut permukiman dan dapat memicu berkembangnya jentik nyamuk Aedes aegypti, vaktor utama penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).

Bacaan Lainnya

Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban setelah mencatat 803 kasus DBD sepanjang per November 2025.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Tuban, pada akhir November 2024 tercatat 762 kasus DBD. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni 651 kasus pada 2022 dan 203 kasus pada 2023.

Penyebab utamanya adalah kurangnya kesadaran masyarakat temtang 3M Plus,perubahan iklim.nyamuk Aedes aegypti menjadi vektor utama penyebaran penyakit ini.

Plt. Kepala Dinkes P2KB Tuban, drg. Roikan, menyebut angka tersebut sebagai peringatan dini agar masyarakat lebih waspada, tanpa perlu panik. Menurutnya, curah hujan yang meningkat membuat banyak genangan air mudah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Yang penting warga tetap tenang dan segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan di wilayah masing-masing. Kalau di desa, bisa langsung menghubungi bidan desa,” ujarnya.

Roikan menegaskan bahwa masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat jika mengalami demam atau gejala yang mencurigakan. Diagnosis DBD tidak bisa disimpulkan hanya dari gejala, tetapi harus melalui uji laboratorium.

“Kalau panas disertai trombosit turun, nah itu indikasi kuat DBD. Tapi tetap harus dipastikan lewat lab,” jelasnya

Jika ada warga yang positif DBD, laporan bisa disampaikan melalui bidan desa untuk kemudian diteruskan ke Puskesmas dan dinas terkait.

Roikan mengingatkan bahwa fogging bukan tindakan pertama yang dilakukan dalam penanganan DBD. Selain membutuhkan konfirmasi kasus, bahan fogging juga tidak boleh digunakan sembarangan.

“Fogging itu menggunakan solar yang dicampur malathion, permetrin, atau sipermetrin. Bahan ini bisa berbahaya jika digunakan terlalu sering. Kalau hanya sekali-dua kali, masih aman,” tuturnya.

Ia juga mengimbau agar warga rutin melakukan kerja bakti menjaga kebersihan lingkungan.

“DBD ini lebih efektif dicegah melalui (Pemberantasan Sarang Nyamuk)PSN. Kalau sarangnya dibersihkan, nyamuknya tidak berkembang,” tambahnya.

Dengan tingginya curah hujan yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun, masyarakat diminta tetap waspada dan menjaga lingkungan agar bebas dari jentik nyamuk.

(Nar/ red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *