TULUNGAGUNG, K2RNews.com – Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo menegaskan pentingnya peran strategis mahasiswa dalam merespons krisis lingkungan yang kian kompleks. Hal itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) se-Jawa dan Nusa Tenggara di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Kamis (02/04/26).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Ahmad Baharudin, jajaran Forkopimda, serta Direktur Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Hari Purwanto. Forum ini menjadi ruang temu lintas mahasiswa untuk memperkuat konsolidasi gagasan dan peran aktif dalam isu-isu strategis, khususnya lingkungan hidup.
Dalam arahannya, Gatut Sunu menilai Rakorwil yang mengangkat tema ekoteologi memiliki nilai lebih dari sekadar agenda rutin. Ia menyebut forum ini sebagai wadah penting untuk merumuskan langkah nyata dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin nyata dirasakan masyarakat.
“Persoalan lingkungan tidak bisa ditunda. Perlu keterlibatan semua pihak, termasuk mahasiswa, agar solusi yang dihasilkan benar-benar berdampak,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan yang mampu mengintegrasikan nilai keislaman moderat dengan dinamika sosial kekinian. Peran tersebut dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.
“DEMA PTKIN harus tampil sebagai motor perubahan yang konstruktif, inovatif, serta berpihak pada kepentingan umat dan lingkungan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pemkab Tulungagung membuka peluang kolaborasi dengan kalangan akademisi dan mahasiswa. Sinergi ini dinilai menjadi langkah strategis dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami siap bersinergi dalam berbagai sektor, mulai pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof Abd Aziz, menyoroti urgensi penerapan nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut ancaman krisis lingkungan saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari langkah konkret. Salah satunya melalui kebijakan kampus yang tidak lagi menggunakan kertas dalam penyusunan karya ilmiah sebagai bentuk komitmen mengurangi dampak kerusakan lingkungan.
(Suwarno/Red)






