Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk dan Resapan Air, Mahasiswa KKN BBK 8 UNAIR Gelar ‘Gema Biopori’ di Desa Kalang

  • Whatsapp
Img 20260805 Wa0005

NGAWI, K2RNews.com – Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan ketersediaan air tanah, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 8 Universitas Airlangga menggelar program bertajuk “Gema Biopori” (Gerakan Masyarakat Sadar Biopori). Program tersebut dilaksanakan di Dusun Grojogan, Desa Kalang, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, pada Kamis, 30 Juli 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 10-15 warga setempat. Program ini bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai pembuatan lubang resapan biopori sebagai solusi sederhana untuk mengurangi genangan air sekaligus mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk buat tanaman sekitarnya.

Edukasi dan Praktik Langsung Pembuatan Biopori

Bacaan Lainnya

Kegiatan pada program kerja ini, diawali dengan penjelasan mengenai persoalan sampah yang kerap menjadi penyebab kerusakan lingkungan, terutama sampah organik seperti sisa dapur dan sampah anorganik yang bila dibakar dapat menimbulkan pencemaran udara serta gangguan kesehatan.

Ketua pelaksana kegiatan, Azryl Baiza Dian Pratama, menjelaskan bahwa lubang biopori dibuat untuk mengubah sampah organik menjadi kompos melalui proses penguraian alami oleh cacing dan mikroorganisme tanah dan alih-alih bisa mempercepat resapan air hujan ke dalam tanah.

“Jadi, program Gema Biopori ini kami buat fungsinya untuk mengurangi banyak sampah dapur yang selama ini hanya dibakar atau dibuang begitu saja, padahal bisa diolah menjadi kompos yang bisa digunakan pupuk organik bagi tanaman sekitar. Dan Biopori ini juga bisa mempercepat resapan air hujan ked alam tanah,” ujar Azryl.

Dalam praktiknya, mahasiswa bersama warga membuat lubang berdiameter 10 sentimeter dengan kedalaman 15-20 sentimeter menggunakan cangkul, sekop, dan pipa paralon yang telah dilubangi. Lubang tersebut kemudian diisi sampah organik seperti sisa dapur dan daun kering, lalu ditutup dengan tutup pipa agar mudah dikenali dan diisi ulang secara berkala. Warga tampak antusias mengikuti tahapan demi tahapan, mulai dari pemilihan titik lubang hingga cara perawatan biopori agar kompos dapat dipanen dalam waktu 2-3 minggu.

“Terima kasih untuk adik-adik KKN dari Unair, Surabaya, atas ilmunya, atas edukasinya, yang sudah memberikan contoh untuk pembuatan pupuk dari biopori. Semoga bermanfaat untuk daerah kami dan bisa digunakan untuk masyarakat di sini,” ujar Bu Dian, warga Dusun Grojogan.

Mendukung Konservasi Air dan Ketahanan Iklim

Selain mengurangi volume sampah organik rumah tangga, program Gema Biopori juga diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanah serta memperkuat kesiapan Dusun Grojogan, Desa Kalang ini untuk menghadapi risiko banjir dan kekeringan akibat perubahan iklim.

Dengan demikian, melalui program kerja Gema Biopori ini, mahasiswa KKN-BBK 8 Universitas Airlangga turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6 (Clean Water and Sanitation), melalui peningkatan daya resap air tanah. Selain itu, program kerja ini sejalan dengan poin SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), dengan mendorong lingkungan yang lebih bersih dan tangguh terhadap banjir. Alih-alih program kerja ini juga mengusung poin SDGs 13 (Cliamte Action), melalui upaya adaptasi terhadap banjir dan kekeringan. Dan yang terkahir, program kerja ini selaras dengan SDGs poin 15 (Life On Land), yakni dengan menjaga kualitas dan kesuburan tanah.

(Abdul Hayi/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *